Gambar dari http://www.theauditpeople.com/
Tulisan kali ini terinspirasi dari pengalaman dalam urusan perbankan. Bank menjadi pilihan wajib buat kita saat ini karena faktor keamanan dan kemudahan yang ditawarkan untuk pengelolaan uang kita. Sangat susah saat ini menemukan orang yang tidak punya rekening di Bank. Sayangnya dua faktor kemudahan dan keamanan sering kali kontradiksi di bank. Atau dengan kata lain, karena kemudahan yang ditawarkan Bank, faktor keamanan uang kita jadi berkurang. Hal ini saya ketahui beberapa hari terakhir. Semoga tulisan berikut bisa membantu kita menjaga keuangan kita dan perusahaan kita dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Cerita yang memicu postingan ini terjadi beberapa hari yang lalu. Saya mengunjungi Bank M**d*r* tempat saya membuka rekening untuk mengubah no HP sms banking saya. Ketika sampai di meja Customer Service, saya utarakan maksud saya dan ngisi formulir perubahan no HP dimana disitu terdapat no rekening, nama ibu kandung, alamat dan data-data lainnya. Selama mengisi formulir, si mbak Customer service menanyakan soal pekerjaan, keluarga dan sebaginya. Lalu dia menawarkan bahwa ada produk tabungan pendidikan untuk anak saya. Karena saya memang kurang tertarik dan supaya tidak terlalu mengecewakan si CS yang udah ngomong banyak saya katakan saja saya minta brosurnya saja nanti saya pelajari.
Setelah selesai mengisi formulir tersebut, si CS pergi meninggalkan saya dengan membawa formulir yang telah saya isi. Saya kira dia harus ke teknisi atau ke supervisor untuk mengurus perubahan yang saya minta. Tetapi yang terjadi cukup membuat saya terkejut. Dia ternyata ke meja Financial Advisor (FA) A*a *an*i*i yang letaknya beberapa meter dari meja CS. Setelah itu orang A*a *an*i*i menghampiri saya dengan membawa formulir yang sudah ada nama saya diatasnya tinggal tanda tangan saja.
Dengan semangat si FA langsung mempresentasikan tentang produk jualannya. Dalam hati saya sudah memutuskan tidak tertarik ikut/membeli produk tersebut. Akan tetapi karena kasihan dengan dia, saya beri waktu dia kesempatan untuk presentasi sampai selesai. Setelah selesai saya menolak halus dengan bilang akan diskusi dengan istri. Kalau saya tertarik saya akan ke situ lagi.
Concern saya yang utama adalah pemberian data pribadi saya oleh si CS Ma***ri ke si FA *x* **nd*** padahal mereka bukan dari perusahaan yg sama dan data nasabah harus dilindungi oleh bank.
Bagi yang belum mengerti tentang pentingnya data pribadi kita, akan saya bahas singkat disini. Efek pertama yg kena jika data kita nyebar adalah kenyamanan berkurang. Kita akan sering dihubungi sales menawarkan sesuatu. Baik itu asuransi, kartu kredit, dsb nya.
Kalau kenyamanan bukan hal yg penting buat Anda, maka faktor berikutnya bisa bikin khawatir. Yaitu bisa berpengaruh ke keuangan kita.
Kok bisa? Hal ini saya ketahui setelah browsing tentang a** ma*d**i. Ternyata kita bilang "ya" di telpon, tanpa tanda tangan formulir apapun sudah dianggap setuju dan rekening kita akan di debet. Padahal di telpon tidak dijelaskan segala sesuatu menyangkut resiko, biaya dan segala hal yg gak mengenakkan buat kita.
Dari hasil browsing saya temukan banyak sekali keluhan mengenai hal ini. Bahkan di fan page facebook a*a *and*** banyak sekali keluhan.
Inilah yg saya maksud kemudahan bisa mengancam keamanan. Kemudahan approval by phone bisa menngancam keamanan uang kita meskipun uang itu di bank. Saya pribadi berpendapat approval by phone seharusnya tidak diperbolehkan. Sama seperti di luar negri.
Tapi kenyataannya hal diatas benar-benar terjadi. Untuk itu saya membuat beberapa tips untuk membantu menjaga keamanan data dan uang kita di bank. Berikut tips nya:
1. Jika CS bank menawarkan produk yg kita tidak tertarik, langsung bilang tak tertarik agar tidak memberi lampu hijau untuk dia share data kita.
2. Jika produk yg ditawarkan CS bank menarik buat kita, tanyakan apa namanya lalu bilang tidak tertarik dengan produk itu. Kok? Untuk alasan yg sama diatas. Mengenai info produk tersebut akan lebih aman kita cari sendiri di internet atau orang-orang terdekat kita berikut testimonial penggunanya. Kalau info di internet gak cukup barulah berikutnya tanya lagi ke CS bank khusus untuk produk itu.
3. Jika ternyata data kita sudah nyebar dan kita ditelpon oleh sales. Hal yang paling penting adalah jangan pernah bilang "ya" atau "setuju" atau jawaban positif lainnya untuk apapun pertanyaannya. Meskipun itu pertanyaan untuk konfirmasi nama. Yang boleh dikatan ketika ditelpon sales hanya jawaban negatif seperti misalnya "tidak mau", "saya tak tertarik". Atau jawab dengan pertanyaan lagi. Misal ketika konfirmasi nama jawab dengan "ini siapa?", "tahu no saya darimana?", dan sebagainya.
4. Kalaupun kita tertarik produk yg ditawarkan tetap jawab negatif. Ingat kita harus cari tahu sendiri produk tersebut di internet atau ke orang yg kita percaya sebelum menyetujui apapun.
5. Cek rekening kita secara reguler paling tidak seminggu sekali. Ini untuk mengetahui ada tidaknya autodebet yg tak kita setujui.
6. Kalau ada autodebet yg tak kita setujui, segera laporkan ke bank dan pihak yg autodebet dan minta dihentikan. Segera selidiki sebabnya jangan tunda lagi karena semakin lama akan makin besar kerugian dan makin susah keluarnya.
7. Kalau ternyata autodebet susah dihentikan dengan semua hal yg kita lakukan, langkah terakhir adalah menutup rekening bank kita dan pindah ke bank lain. Ini adalah langkah ekstrim yg diambil beberapa orang karena tidak bisa menghentikan autodebet. Berat memang tapi daripada kerugian terus terjadi.
Semoga tips diatas bisa membantu kita untuk lebih melindungi uang kita. Hikmah dari cerita ini adalah meskipun sudah di bank uang kita belum aman dan masih butuh perlindungan kita. Jika kita punya karyawan tidak ada salahnya juga kita minta karyawan kita berhati-hati agar hasil kerja keras mereka tidak diambil oleh pihak-pihak yang tidak berhak tanpa persetujuan mereka.

No comments:
Post a Comment